Perubahan Adat Busana Mukminat Indonesia

Perubahan Adat Busana Mukminat Indonesia

model baju muslim kali ini memang berkembang oleh pesat, bahkan menjadi industri yang sangat menggiurkan. namun, tahukah kamu sebelum model baju muslim berkembang seperti sekarang ternyata pemakaian penutup kepala (hijab bolak balik) bagi wanita sempat dilarang. sebenarnya islam di indonesia sudah masuk sejak abad ke 7. lalu bagaimana mampu busana orang islam berkembang sampai sekarang bersama kondisi penggunaan hijab yang sudah dilarang hingga anggapan kono pada pemakainnya. seterusnya ini ceritanya.

abad ke 7

seperti banyak literatur yang menuliskan bahwa islam masuk ke nusantara semenjak kedatangan para pedagang timur tengah, india, dan persia. kemudian penyebaran islam di nusantara semakin berkembang, terutama karena peran para wali songo di pulau jawa. pada abad ke 19 atau waktu wali songo meluaskan islam, wanita-wanita pemeluk islam di nusantara belum membekukan kepalanya atau berjilbab. meski sudah sejak lambat diketahui bahwa wanita muslim berkewajiban menutup kepalanya.

berbagai gerakan di nusantara mengupayakan penerapan jilbab bolak balik di masyarakat, seperti kegiatan paderi di minangkabau, serta ormas-ormas islam lainnya. meski aksi ini digalakan nyatanya tidak secara langsung meminta para perempuan untuk langsung menghentikan kepalanya seperti model hijab yang dikenal kali ini. dulu para wanita hanya mengenakan kain panjang tipis yang dikaitkan di bagian kepala sama rambut, dan leher yang masih kelihatan serta memakai busana khas daerah seperti kebaya kutu baru.

kemerdekaan

pertentang tentang penggunaan penutup kepala (kerudung) dan busana orang islam terjadi ketika pemerintahan orde lambat dan orde baru. sebelum kemerdekaan dan masa orde lambat penerapan kerudung menjadi kontroversi di media periode. sementara penerapan kerudung di orde lambat mendapat pertentangan keras dari penguasa pada saat itu. sebab apabila siswi smp/sma ataupun pegawai negeri yang memanfaatkan kerudung dianggap telah melewati aturan, sehingga praktis pada waktu ini kerudung mayoritas digunakan oleh santriwati, sekutu usroh dan tarbiyah. pada era itu, santriwati mengenakan tunik selutut bersama model sederhana yang dipadukan dengan rok panjang serta kerudung segi empat yang dilipat dan diberi peniti di bawah dagu.